Melampaui Kemuliaan: Melayani dengan Taat, Setia, dan Percaya

Melampaui Kemuliaan: Melayani dengan Taat, Setia, dan Percaya

Daun-daun palem dilambaikan, nyanyian “Hosana” menggema, dan jemaat larut dalam sukacita. Suasana ibadah Minggu, 29 Maret 2026 di GKI Perumahan Citra 1 terasa berbeda. Minggu Palmarum membawa jemaat masuk dalam peristiwa ketika Yesus dielu-elukan sebagai Raja yang datang—disambut dengan sorak-sorai dan pengharapan. 

Namun, sukacita itu tidak bertahan lama. Perlahan, jemaat diajak menyadari sebuah kontras yang tajam: sorak “Hosana” yang menggema di Yerusalem, dalam waktu singkat berubah menjadi teriakan “Salibkan Dia.” Dunia sering kali memahami kemuliaan sebagai sesuatu yang sementara yang bergantung pada pengakuan dan penerimaan manusia.

Melalui pembacaan Firman Tuhan (Yesaya 50: 4-9a, Filipi 2: 5-11, Matius 27: 11-54), nyanyian Mazmur 31: 10-17 serta khotbah yang dilayankan oleh Pdt. Gloria Tesalonika. Jemaat diajak untuk melihat bahwa Yesus menunjukkan jalan yang berbeda. Ia tidak mempertahankan popularitas-Nya dan tidak membela diri-Nya di tengah tuduhan yang diberikan kepada-Nya. Sebaliknya, Ia memilih jalan salib sebagai bentuk ketaatan kepada kehendak Bapa. Di sanalah makna sejati dari “melampaui kemuliaan” dinyatakan. 

Dalam suasana itulah, jemaat tidak hanya mengenang peristiwa iman, tetapi juga menyaksikan panggilan itu hadir nyata hari ini.

Pada ibadah kedua, dilakukan peneguhan kepada sebelas orang calon penatua untuk masa pelayanan 2026–2029 dalam diri:

  1. Aminalai Wau
  2. Christy Donna br. Kaban
  3. Danny Hardadi Gunadi
  4. Darmanto
  5. Ike Meilianawati
  6. Rudi Frans Gultom
  7. Ruri Arumdati
  8. Sahala Juda Manullang
  9. Samuel Stefan Siahaya
  10. Sri Hendrini Wahyu Sejati
  11. Susiani Muliana

Sementara itu, pada ibadah ketiga, dilangsungkan juga pelantikan Badan Pelayanan sebagai wujud nyata keterlibatan jemaat dalam pelayanan gereja.

Dibalik setiap nama yang disebutkan, ada perjalanan iman yang tidak selalu sederhana. Ada pergumulan, kesibukan hidup, keraguan, bahkan mungkin pertanyaan dalam hati: “Mengapa saya?” Mereka berdiri bukan sebagai pribadi yang telah siap sempurna, melainkan sebagai mereka yang berani menjawab panggilan Tuhan

Peneguhan ini menjadi pengingat bahwa pelayanan bukan sekadar jabatan, melainkan respons iman. Para penatua dipanggil untuk membangun jemaat dalam iman, pengharapan, dan kasih, sekaligus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari. Pelayanan tidak lahir dari kesiapan manusia, melainkan dari kesetiaan Tuhan yang memampukan.

Tema “Melampaui Kemuliaan” pun menjadi nyata dalam momen ini.

Melampaui kemuliaan berarti taat, bukan untuk terlihat. Pelayan Tuhan tidak dipanggil untuk mencari pengakuan, melainkan untuk setia melakukan kehendak-Nya, bahkan ketika tidak ada yang melihat atau menghargai. Seperti Yesus yang tetap taat di tengah penolakan, demikian pula setiap pelayan dipanggil untuk berjalan dalam kesetiaan.

Melampaui kemuliaan berarti melayani dari identitas, bukan pembuktian. Dalam Filipi 2, Yesus yang adalah Allah justru mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seorang hamba. Ia tidak perlu membuktikan siapa diri-Nya kepada dunia. Demikian pula setiap pelayan gereja dipanggil untuk hidup dari identitas sebagai anak-anak Allah, yaitu melayani dengan tulus, bukan untuk diakui.

Melampaui kemuliaan berarti percaya, bukan mengendalikan. Dalam pelayanan, tidak semua berjalan sesuai harapan. Ada tantangan, kesalahpahaman, bahkan kekecewaan. Namun, seperti pemazmur yang berkata, “Nasibku ada dalam tangan-Mu,” kita diajak untuk menyerahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan dan percaya bahwa Ia memimpin setiap langkah pelayanan.

Peneguhan penatua dan pelantikan badan pelayanan pada tanggal 29 Maret 2026 menjadi pengingat bahwa pelayanan adalah perjalanan iman yang terus berlangsung. Jabatan mungkin memiliki batas waktu, tetapi panggilan untuk melayani tidak pernah berakhir.

Kiranya melalui momen ini, seluruh jemaat diingatkan kembali bahwa hidup Kristiani bukanlah tentang mengejar kemuliaan dunia, melainkan tentang melampauinya, yaitu hidup dalam ketaatan, kesetiaan, dan kepercayaan kepada Tuhan. Sebab pada akhirnya, kemuliaan sejati bukanlah tentang sorak “Hosana” dari manusia, melainkan tentang kesetiaan berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika jalan itu membawa kita menuju salib. 

Selamat melayani bagi para penatua yang telah diteguhkan dan seluruh aktivis Badan Pelayanan yang telah dilantik. Tuhan memampukan dan memberkati.

Berita Terkait