KETIKA WAKTU BERGANTI, PENGHARAPAN TETAP KITA PELUK

KETIKA WAKTU BERGANTI, PENGHARAPAN TETAP KITA PELUK

Waktu tidak pernah menunggu kita siap. Ia terus berjalan, membawa kita melewati satu musim dan memasuki musim yang lain. Kini, ketika tahun 2025 kita tinggalkan dan tahun 2026 terbentang di hadapan kita, banyak hati berdiri di ambang waktu dengan perasaan penuh tanya. Ada syukur karena masih bertahan. Ada lelah karena terlalu banyak hal yang harus dilewati. Ada harapan, tetapi juga kecemasan yang sulit diungkapkan.

Kita hidup pada zaman yang rapuh. Dunia diguncang oleh bencana alam, krisis ekonomi, dan kekerasan yang seolah tak berkesudahan. Di ruang-ruang pribadi, banyak keluarga bergumul dalam diam, banyak individu berjalan dengan luka yang belum sembuh. Tidak sedikit yang merasa imannya kering. Mereka berdoa, tetapi hatinya kosong. Mereka beribadah, tetapi jiwanya letih. Banyak orang bertanya, “Apakah masih ada masa depan?”

Di tengah kenyataan ini, firman Tuhan dalam Ibrani 6: 19 mengatakan, “Pengharapan itu sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir.”

Pengharapan bukanlah ilusi. Ia bukan sekadar kata-kata penghiburan pada awal tahun. Alkitab tidak menggambarkan pengharapan sebagai sekadar semangat positif atau pikiran optimis. Dalam Alkitab, pengharapan adalah sauh, yaitu penahan jiwa agar tidak hanyut ketika badai datang. Sauh tidak menghilangkan gelombang. Sauh tidak membuat angin berhenti bertiup, tetapi memastikan kapal tetap tertambat dan tidak terseret arus. Sauh bekerja di bawah permukaan, tidak terlihat, tetapi menentukan apakah kapal bertahan atau karam dan tidak kehilangan arah.

Begitulah pengharapan dalam iman Kristen. Pengharapan tidak menjanjikan hidup tanpa luka, tetapi memberi kekuatan untuk bertahan di tengah luka. Pengharapan tidak selalu mengubah keadaan secara instan, tetapi mengubah cara kita berjalan di dalam keadaan itu. Ia membuat kita tetap berdiri ketika dunia ingin menjatuhkan dan tetap percaya ketika logika berkata menyerah.

Memasuki tahun 2026, mungkin kita belum melihat masa depan dengan jelas. Rencana bisa berubah. Usaha bisa tertunda. Doa-doa bisa terasa sepi. Namun, firman Tuhan menegaskan bahwa pengharapan kita tidak bergantung pada kepastian situasi, melainkan pada kesetiaan Allah. Allah yang sama yang memimpin kita melewati tahun-tahun sebelumnya adalah Allah yang akan berjalan bersama kita hari ini dan esok.

Pengharapan inilah yang menolong kita bangkit setelah jatuh, kembali melangkah setelah kecewa, dan tetap mengasihi meski pernah disakiti. Pengharapan menjaga hati kita agar tidak mengeras oleh kepahitan dan tidak layu oleh kelelahan. Pengharapan membuat kita berani bermimpi lagi, bukan karena dunia sudah aman, tetapi karena Tuhan tetap memegang kendali.

Menariknya, sauh bekerja di bawah permukaan. Ia tidak terlihat, tetapi justru di situlah kekuatannya. Demikian pula pengharapan. Ia mungkin tidak selalu tampak dalam sorak-sorai, tetapi hidup dalam doa-doa sederhana, kesetiaan sehari-hari, dan keputusan untuk tetap percaya meski langkah terasa berat.

Begitulah pengharapan di dalam Tuhan. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi menjamin kehadiran Allah di tengah masalah. Ia tidak selalu memberi jawaban cepat, tetapi memberi kekuatan untuk bertahan. Ia tidak menghapus gelap, tetapi memastikan bahwa gelap tidak berkuasa.

Memasuki tahun 2026, kita mungkin belum memegang kepastian, tetapi firman Tuhan memanggil kita untuk memegang pengharapan. Bukan pengharapan yang rapuh karena bergantung pada keadaan, melainkan pengharapan yang berakar pada kesetiaan Allah. Allah yang memegang masa lalu kita, yang menyertai hari ini, dan yang sudah lebih dahulu hadir pada hari esok.

Pengharapan dalam Tuhan memberi kita kekuatan untuk menilai dan memulai yang baru. Sebaik dan seindah apapun masa lalu kita, tidak akan bermakna jika tidak kita isi dengan hal-hal bermakna pada hari ini. Jangan menilai masa depanmu dari luka-luka yang belum sembuh. Jangan mengukur hari esok dari ketakutan hari ini. Satu lagi, jangan mengira Tuhan diam hanya karena jalan terasa gelap.

Tuhan sedang bekerja, bahkan ketika kita belum melihat hasilnya. Ada pemulihan yang sedang disiapkan. Ada kekuatan baru yang sedang ditumbuhkan. Ada arah baru yang akan dibukakan bagi mereka yang tetap setia berjalan bersama-Nya.

Tahun 2026 mungkin tidak bebas dari badai. Namun, firman Tuhan menyatakan: umat-Nya tidak akan berjalan tanpa arah. Mereka yang menambatkan hidup pada Kristus tidak akan dibiarkan hanyut. Pengharapan akan menjaga langkah mereka tetap teguh, hati mereka tetap tenang, dan iman mereka tetap menyala.

Oleh karena itu, ketika waktu berganti, kita memilih untuk tidak memeluk ketakutan, tetapi memeluk pengharapan. Kita melangkah bukan dengan optimisme yang naif, tetapi dengan iman. Bukan dengan kepastian diri, tetapi dengan kepercayaan penuh kepada Allah yang setia. Hal ini cukup bagi kita untuk memasuki tahun 2026 bahwa Tuhan belum selesai dengan kita. Cerita hidup ini belum berakhir dan masa depan tetap ada di dalam tangan-Nya.

Kiranya tahun 2026 menjadi tahun di mana umat Tuhan berjalan dengan hati yang diteguhkan, iman yang diperbarui, dan pengharapan yang tidak pudar. Selama sauh itu tertanam kuat di dalam Kristus, badai tidak akan menjadi akhir cerita, melainkan pintu menuju karya Allah yang lebih besar.

 

 

Epifani 2026

Pdt. Em. Ellisabeth Hasikin

Berita Terkait
Komentar
Tinggalkan Komentar